Ketua IKK Makayoa Kota Tidore Kepulauan Ardiansyah Fauji menerima bendera pataka saat dilantik langsung Ketua Dewan Penasehat IKK Makayoa Indonesia Pusat, Drs. H. Thaib Armain. (Foto:dok.zt)
Dalam momentum politik apapun di Kota Tidore Kepulauan Saya tegaskan tidak ingin membawa organisasi IKK Makayoa pada ranah politik karena jika kita sudah bicara pada politik kekuasaan maka ada banyak hal yang akan dipikirkan. Ardiansyah Fauji – Ketua IKK Makayoa Kota Tidore Kepulauan.
Tidore – Ardiansyah Fauji resmi dilantik sebagai Ketua Paguyuban Ikatan Kerukunan Keluarga Makian Kayoa (IKK-Makayoa) Kota Tidore Kepulauan periode 2025-2028, yang berlangsung di Aula Nuku, pada Selasa (30/9/2025).
Pelantikan tersebut dihadiri Wakil Walikota Tidore Kepulauan Ahmad Laiman, Sultan Tidore H. Husain Alting Sjah. Selain itu juga hadiri pengurus DPP IKK Makayoa Indonesia yakni Ketua Dewan Penasehat H. Thaib Armaiyn, Sekjen DPP IKK Makayoa Abjan Halek, Dr. Saiful Ahmad, dan Salim Halik serta rombangan lainnya.
Diawal sambutannya, Ardiansyah Fauji mengantarnya dengan sebuah buku karangan Amy Chua yakni Politik Kesukuan: Insting Kelompok dan Nasib Bangsa, yang menyuguhkan berbagai kegagalan Amerika Serikat. “Dimana puncak dari segala kegagalan tersebut dirasakan dan ditangkap oleh Chua, khususnya semakin menguat pasca pemilu Presiden Amerika Serikat tahun 2016,” ucap Ardiansyah memulai sambutannya.
Direfleksikan oleh Amy Chua, kata Ardiansyah bahwa sebagai bukti yang ingin ditunjukkan dalam buku Amy Chua kepada pembaca bahwa Amerika Serikat kerap melupakan kompleksitas kesukuan dalam mengambil kebijakan. “Ini hanya sekedar gambaran Amy Chua bahwa kegagalan Amerika akibat buta terhadap kekuatan politik kesukuan,” singkatnya.
“Buku Amy Chua tidak lupa memberikan contoh warisan keberhasilan betapa berharganya memahami kekuatan politik kesukuan dalam membuat dan mengeksekusi kebijakan,” tukasnya.
Dalam konteks politik, Ardiansyah Fauji yang juga Ketua Komisi III DPRD Tikep itu mengatakan politik kesukuan dalam buku Amy Chua cukup provokatif. “Menurut saya Amy Chua mencoba memaparkan kepada kita tentang kegagalan negara besar seperti Amerika dalam mencegah konflik hanya karena tidak memahami apa itu suku,” terangnya.
“Karena 80 persen penduduk Amerika adalah orang-orang pendatang dan orang Amerika yang asli itu cuma suku Aborigin,” sebutnya.
Hal itu kemudian, lanjut Ardiansyah, bahwa kesalahan-kesalahan itu membuat Amerika gagal menangani konflik mereka di negara mereka. Begitupun Indonesia hari ini saya sering bilang kalau kemudian negara ini percaya kepada Sultan Tidore untuk menyelesaikan konflik yang selama ini tumbuh di Papua kita pikir selesai sebenarnya. “Tetapi pendekatan kultural itu tidak pernah dipakai, pasalnya orang-orang lupa terhadap kultur sebenarnya siapa kita dan kenapa kita ada sampai hari ini,” tegasnya.
“Jadi di dalam forum ini saya juga ingin memberi informasi kepada negara kalau ingin menyelesaikan konflik permanen yang selama ini ada di Papua semuanya solusinya cuman Sultan Tidore sebenarnya,” sebutnya.
Sebagaimana Aristoteles menyebutkan kita adalah manusia politik atau manusia sosial yang akan mengalami keterkaitan. “Setiap hari kita cenderung berkelompok tetapi kemudian insting yang tumbuh di hadapan kita atau lahir bersama kita itu harus jadi kekuatan naluri ini yang kemudian harus mampu kita kendalikan,” katanya.
Karena itu jika IKK Makayoa kedepan tidak dikendalikan dengan baik maka hanya akan membangun sekat yang besar dengan kelompok-kelompok yang lain. “Kami ingin bahwa IKK Makayoa sebagai penyatu dan perekat bagi kelompok-kelompok suku yang lain di Kota Tidore Kepulauan,” pungkasnya.
Ardiansyah juga mengatakan sebelumnya dirinya menolak untuk dicalonkan sebagai Ketua IKK Makayoa Tikep karena berbagai pertimbangan beberapa jabatan jabatan ketua yang telah Ia emban sebelumnya.
Namun setelah direnungi kembali dalam satu pemikirannya selama ini Makayoa dalam setiap momen politik di Kota Tidore Kepulauan dua periode belakangan selalu digiring kedalam wilayah politik tersebut.
Untuk itu dirinya menegaskan dimasa kepemimpinannya IKK Makayoa Tikep tidak akan digiring ke ranah politik praktis. “Dalam momentum politik apapun di Kota Tidore Kepulauan Saya tegaskan tidak ingin membawa organisasi IKK Makayoa pada ranah politik karena jika kita sudah bicara pada politik kekuasaan maka ada banyak hal yang akan dipikirkan,” tutupnya. (red)














