Sampaikan Stadium General, Sultan Tidore H. Husain Alting Sjah: IKK Makayoa Tikep Harus Perkuat Semangat ‘Tapso’

Sultan Tidore H. Husain Alting Sjah menyampaikan Stadium General, pada pelantikan pengurus IKK Makayoa Kota Tidore Kepulauan, Selasa (30/9/2025).(Foto:dok.zt)

Tidore – Pelantikan pengurus Ikatan Kerukunan Keluarga Makian Kayoa (IKK-Makayoa) Kota Tidore Kepulauan periode 2025-2028 menjadi momen penting dan bersejarah bagi warga Makayoa yang hidup dan tinggal di Tidore.

Momen pelantikan itu tidak sekedar menjelaskan nilai historis namun keberadaan komunitas Makian Kayoa di Tidore itu sendiri. Dimana kehadiran Sultan Tidore dalam momen spesial itu menambah nilai tersebut.

H. Husain Alting Sjah yang juga salah satu tokoh besar Maluku Utara itu tidak sekedar hadir memenuhi undangan, melainkan memberikan stadium general yang bertajuk “Bersama Makayoa Merajut Spirit Mode Tapso”.

Dalam penyampaiannya Sultan Tidore H. Husain Alting Sjah menyampaikan bahwa semangat kesukuan adalah perasaan identitas dan kesetiaan yang kuat terhadap suatu kelompok etnis atau suku, yang dapat memanifestasikan dirinya sebagai rasa kekeluargaan, kebanggaan akan tradisi, serta upaya menjaga dan mengembangkan adat istiadat serta kebudayaan suku tersebut. “Semangat ini sangat positif karena didorong sebuah keharmonisan dan persatuan atau Tapso yang dibawa oleh IKK Makayoa tersebut,” ujarnya.

Sultan Tidore juga menegaskan bahwa IKK Makayoa harus bersatu. Dan persatuan ini harus dijaga dengan baik. “Sebab hanya dengan persatuan kita dapat melakukan apa saja, dan IKK Makayoa akan mampu jika tetap menjaga persatuan atau Tapso itu sendiri,” ucapnya.

Dikatakannya, bahwa sebagaimana tema besar IKK Makayoa Tikep yang digagas, yaitu Mode Tapso (Mari Bersatu). “Maka dari itu, Tapso itu terus diperkuat,” tegasnya.

Dalam konteks itu juga, H. Husain Syah mengatakan isu identitas, termasuk identitas suku, sangat penting karena membentuk karakter individu dan bangsa, menjadi perekat persatuan dalam keberagaman, dan memengaruhi dinamika politik. “Identitas sosial memungkinkan pengkategorian diri dan orang lain ke dalam kelompok. Termasuk ketika identitas nasional kokoh, ia menyatukan berbagai suku, agama, dan budaya dalam satu negara,” tandasnya.

Sultan Tidore Ke 37 itu menegaskan bahwa perbedaan suku itu sunnatullah. Dimana keberagaman suku bangsa adalah kehendak dan ketetapan Allah SWT yang tidak dapat dihindari. “Dan tujuan utama dari perbedaan ini adalah agar manusia dapat saling mengenal, menghargai, dan pada akhirnya membentuk masyarakat yang harmonis,” jelasnya lagi.

Makna dan tujuan Sunnatullah adalah keniscayaan dan kebesaran Allah SWT, Agar Saling Mengenal, Membangun Kerukunan dan Kerjasama, Menghargai Perbedaan, Tidak Merasa Paling Benar, Bersyukur atas Keragaman dan Mencontoh Sifat Allah.

Dalam forum itu Sultan Tidore juga mengatakan ada satu kesalahan besar dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara khususnya di provinsi Maluku Utara dan Indonesia pada umumnya.

Dimana, dalam konteks politik, ketika isu-isu politik itu dia berjalan sangat kencang dan kuat, dirinya pernah diminta oleh beberapa orang untuk tidak berbicara perihal politik identitas dan di mana-mana selalu dibilang jangan membawa-bawa politik identitas. “Jadi perlu saya sampaikan bahwa identitas itu adalah sunnatullah, identitas itu adalah kodrat,” katanya.

Artinya bahwa Kita semua tidak diberikan pilihan untuk memilih harus menjadi suku apa. “Artinya Kita tidak bisa melawan takdir yang telah ditentukan oleh Tuhan, saya tidak tidak memilih harus menjadi orang Tidore dan bapak ibu juga tidak memilih menjadi orang Makayoa. Sebab itu adalah kodrat,” pungkasnya.

“Itu adalah identitas, jadi kita tidak bisa melawan sunnatullah yang telah Allah tetapkan kepada Kita semua,” terangnya.

Oleh karena itu pada kesempatan yang berbahagia ini pengurus IKK Makayoa dan seluruh keluarga besar Makayoa yang ada di Tidore agar tetap bersama dalam bingkai kekeluargaan. “Sekali lagi saya ingin mengingatkan kepada Kita semua mari kita mensyukuri seluruh identitas seluruh suku yang ada termasuk di Tidore, Maluku Utara dan Indonesia. Mode Tapso (mari torang bersatu),” tutup H. Husain Alting Sjah. (red)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *