TNI Manunggal Air Targetkan 20 Titik Di Wilayah Patani

WEDA – Sejauh ini TNI Manunggal Air telah membangun 8 titik air bersih di wilayah Patani dari 20 titik yang ditargetkan. Dalam rangka itu Pemda Halmahera Tengah mengaku akan bekerjasama dengan TNI AD dan pihak swasta untuk menykseskan program tersebut.

Terkait hal itu, Penjabat Bupari Halmahera Tengah, Ikram M Sangadji (IMS) menjelaskan mekanisme kerjasama TNI Manunggal Air bukan hanya kerjasama antara pemerintah daerah dengan TNI AD tapi juga melibatkan pihak swasta dalam hal ini PT. IWIP, karena ada program PPM dan CSR. “Artinya bahwa di tingkat regulasi dan kebijakan ini ada di pemda, kemudian teknis pelaksanaannya dengan TNI AD,” jelas Ikram M Sangadji.

IMS juga mengatakan untuk pembiayaan itu melibatkan pihak ketiga, sehingga dirinya berencana tahap pertama dibangun 8 titik, kemudian berlanjut sampai 20 titik. Ikram melihat ada ekspektasi yang bagus, dimana kerjasama TNI AD Manunggal Air tidak hanya di Halteng saja tapi sudah sejak 2021 di Provinsi Bali dan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). “Replikasi struktur lahan dan kualitas air bersih di sini hampir sama, terutama di desa-desa pesisir dan hampir semua wilayah Patani, Patani barat, Patani Utara dan Patani Timur,” ucapnya.

Dikatakannya, TNI AD dengan tim teknis sudah melakukan pengeboran dengan biolistrik dan hanya di tiga kecamatan yang ditemukan, yaitu Patani Barat, Patani dan Patani Timur, sementara Patani Utara sampai sekarang kedalamannya harus lebih dari 200 meter. “Biasanya pengeboran ini dilakukan 40 meter samapai 60 meter. Namun TNI Manunggal Air ini pengeboran dilakukan itu lebih dari 100 meter untuk mencari kualitas air dan volume air yang baik. Jadi kalau air tanah kedalaman kurang dari 60 meter itu tidak kuat,” katanya.

“Suatu saat airnya bisa kering. Tapi apabila kedalamannya lebih dari 100 meter kualitas airnya bagus dan volumenya juga tidak berkurang,” terangnya.

Ikram mengatakan, program ini merupakan skema pemanfaatan itu melibatkan desa, jadi infrastruktur pipanisasi di desa sudah jalan tapi kualtiasnya masih kurang bagus, yang pertama tidak ada penyaringan dan biasanya dari reservoir langsung ke pipa induk. “Sekarang kita rubah ada penyaringnya sehingga kualitas air bagus,” akunya.

Salinitas air saat ini mencapai 12 ppm, jadi dengan sistem vilter bisa disterilisasi kandungan garam dan kapurnya sehingga dari sisi kelayakan air bisa dinikmati oleh masyarakat. Jika tidak kandungan kapur dan garam tinggi maka kualitasnya kurang bagus. “Jadi pemiliharaannya diserahkan ke desa, dimana sistem air berbasi desa ini yang akan kita kembangkan dan menjadi pilot projek daerah lainnya,” sebutnya.

IMS juga mengatakan program air bersih tersebut dibagi dua klaster, yang pertama wilayah Weda, yang dimulai dari Wairoro sampai dengan Dote, semuannya itu water treatmenya di Weda, Weda Tengah, Weda Utara dan Weda Timur dan itu akan dibangun water treatmen oleh PT. IWIP.

Bahkan di Weda Selatan akan dibangun bersama dengan PUPR dan prosesnya di tahun 2023 itu sudah jalan, dan sudah disediakan sumur. “Di Weda Selatan juga pemanfaatannya untuk membantu pengairan juga,” akunya lagi.

Sementara untuk klaster Patani (Kecamatan Patani Barat, Patani, Patani Utara dan Patani Timur) adalah murni kerjasama antara PT. IWIP, Pemda Halteng dan TNI AD. “Rencanannya ada 20 titik dan akan kita selesaikan tahun ini dan jadi  pilot projek kita,” bebernya.

IMS mengaku ada beberapa desa di Kabupaten di wilayah Maluku Utara yang memang sulit mendapat air bersih. Untuk itu di wilayah Halteng sendiri, IMS mengaku sudah melakukan analisa. “Kabupaten ini sudah berdiri lama, tapi air bersih ini menjadi kendala sampai saat ini, oleh karena itu kita tidak bisa bekerja sendiri. Pemda tidak akan mampu melakukan pembiayaan sendiri. Pembiayaan kita bisa cari, tapi faktor teknis kita perlu orang, sehingga dengan kerja sama ini bisa membuka ruang percepatan pelayanan air bersih di suatu wilayah,” tegasnya.

Lebih lanjut IMS mengatakan, hampri semua desa bisa dilayani, hanya saja sumber airnya masih mengandalkan sumur atau mata air. Jadi saat musim hujan volmenya bertambah, tapi musim kemarau volumenya akan berkurang.

Dia mencontohkan di Kecamatan Patani Utara, setelah dicek kedalamannya harus 200 meter. Namun saat ini mereka masih memanfaatkan mata air yang ada, namun kita tidak bisa jaminkan kemanannya. “Tapi kalau pakai sumur bor itu pengamanannya terjamin karena bedara di dalam tanah,” ujarnya. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *