WEDA – Tabligh Akbar dalam rangka Festival Fagogoru tahun 2023 menghadirkan Sayyid Muhammad Albaqir Bin Alwi Bin Thohir dan Habib Dr. Alwi Ali Bin Thohir serta Qori Internasional H. Muhammad Ali.
Saat membawakan hikmah tabligh akbar Habib Dr. Alwi Ali Bin Thohir menyampaikan ada dua kelompok kata nabi Muhammad SAW. Dimana dua kelompok ini bila mereka baik maka baik seluruh masyarakat, baik seluruh umat manusia. Tapi, apabila rusak dua kelompok maka seluruh masyarakat seluruh umat akan rusak semuanya. “Siapa mereka, adalah Al ulama wal Umara, ini penentu baik buruknya masyarakat itu tergantung bagaimana ulama dan umara,” ucap Habib Alwi.
Oleh karena itu lanjut Habib Alwi dalam kesempatan itu berucap sukur, Alhamdulillah malam ini (tabligh Akbar) berkumpul ada ulama dan umaranya. “Mudah-mudahan masyarakat Halteng ini Allah berikan keberkahan, aamiin, Allah berikan kejayaan, aamiin, dan juga mudah-mudahan Allah berikan rahmatnya yang besar untuk negeri ini, aamiin,” ucap Habib Alwi penuh doa.
Tapi sore ketika Habib tidur sebentar, terdengar suara hujan yang begitu besar sekali dalam hati apakah hujan ini akan terus turun sampai malam ini atau hujan ini akan berhenti sejenak.

Dalam hati, Habib yakin bahwa kalau malam ini disini ditempat ini kita mendengarkan sholawat-shalawat nabi, kita mendengarkan bacaan-bacaan ayat suci Alquran, kita dengarkan tausiyah-tausyiah agama maka langit pun akan gembira, langit pun akan senang dia tahan itu air hujannya, padahal kata Allah itu air hujan yang diturunkan oleh langit adalah air yang penuh dengan keberkahan.
Dia juga menyampaikan bahwa hidup itu bukan hanya di dunia, dunia ini adalah salah satu dari pada perjalanan hidup seorang manusia. Bahwa setiap manusia, siapapun dia mau ulama, mau pejabat siapapun dia, dia akan melewati lima alam kehidupan. “Alam yang pertama alam ruh, alam rahim, alam dunia. Berapa lama kita di alam dunia, oooh, ummat manusia di alam dunia khususnya umat nabi Muhammad SAW itu dikatakan oleh nabi, umur umatku di alam dunia ini antara 60-70 tahun,” katanya.
“Hitung rata-rata 60 tahun. Jadi pak bupati kalau hari ini kita sudah berumur 59 tahun 11 bulan, hati-hari bulan depan sudah tidak ada lagi. Dan ini pasti. Kematian itu adalah kepastian,” ujarnya.
Oleh karena itu, dalam pola berpikir kita jangan selalu yang namanya dunia kita kejar, padahal waktu sudah menjelang ashar dan sebentar lagi akan magrib baru kita sadar, sudah terlambat. “Jadi kalao mau sadar ya sekarang-sekarang ini, kalau mau jadi orang baik ya sekarang-sekarang ini. Waktu kita sudah ashar, sebentar lagi magrib,” pesannya.
Oleh karena itu malam ini Habib ingin menyampaikan supaya kita selamat dari kehidupan alam dunia ini masih ada alam lain yang kita lewati, kita datangi, yang kita sebut alam barzah/alam kubur, maka paling tidak di alam dunia ini persiapan harus kita lakukan. “Apa yang harus kita lakukan, yang pertama sambung rantai kita dengan sang pencipta alam semesta. Jangan sombong bapak ibu sekalian, rantai kita, kita sambung dengan penguasa, kita sambung dengan pejabat, kita sambung dengan konglomerat,” terangnya.
“Tapi rantai kita dengan pencipta alam semesta kita lupakan,” tambah Habib.
Ditegaskannya, rantai kepada Allah SWT harus kita sambung terus menerus jangan sampai putus. Karena Allah katakan (Wa man a’raḍa ‘an żikrī fa inna lahụ ma’īsyatan ḍangkaw wa naḥsyuruhụ yaumal-qiyāmati a’mā) Artinya: Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. “Sambung rantai dengan Allah SWT, lewat apa? Lewat salat lima waktu. Itu rantainya. Salatnya lima waktu,” sebutnya.
Rantai itu harus lima, anda bisa bayangkan kalau kita naik motor yang ibarat rantainya itu ada 10 tiba-tiba satu rantainya putus, satu putus bukan semuanya putus, kira-kira walaupun motor itu bisa distarter tapi motor itu bisa jalan atau tidak? Pasti tidak bisa jalan, kenapa karena putus rantainya. “Begitu juga kita manusia, kita ini hamba Allah bukan hamba kekuasaan, hamba harta, bukan,” lanjut Habib.
“Tapi kita ini hamba Allah, maka sambung rantai dengan Allah harus kuat. Jangan sampai rantainya berkarat, jangan sampai rantainya putus,” urainya.
Jaga itu rantai dengan salat lima waktu. Oleh karena itu bapak ibu, sesibuk kita, se repot-repot kita dengan urusan pekerjaan kita, dengan urusan bisnis kita, dengan urusan dagang kita, dengan urusan apapun juga jangan sampai ini rantai putus. “Waktunya dipanggil oleh Allah, datang. Kita saja, kalau dipanggil atasan kita siap, tapi ketika dipanggil oleh Allah nanti dulu, ada sibuk sadiki. Jangan,” pesan Habib.
Dengan manusia kita cuma sebentar, tapi dengan Allah itu selamanya, jangan sampai kita dicintai oleh manusia tapi dibenci oleh Allah. Jangan. Carilah kecintaan Allah, oleh karena itu sambung rantai kita dengan Allah. “Untuk menyambung rantai kita dengan kekasihnya Allah, yaitu junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW sambung rantai dengan nabi Muhammad, kenapa, karena yang bisa buka pintu surga itu nabi Muhammad SAW,” paparnya.
“Katanya, kepengen masuk surga, hidup kaya-raya mati masuk surga. Bagaimana kita bisa masuk surga kalau rantai kita dengan nabi Muhammad SAW itu putus,” tuturnya.
Sambung rantai terus menerus dengan nabi Muhammad SAW, lewat apa rantainya, lewat membaca salawat ke beliau. “Oleh karena itu Halmahera ini berkah, mau Allah SWT turunkan berkah, maka jangan putus-putus membaca salawat. Dimana itu tempat salawat, disitu keberkahan Allah SWT berikan,” urai Habib Alwi.
Semakin banyak kita bersalawat, semakin banyak keberkahannya. Dan ini sudah berulang kali Habib praktekkan, setiap bulan maulid, itu puluhan ribu habib undang untuk hadirkan di pesantren.
Saya minta satu Minggu sebelumnya santri-santri yang ada semuanya baca salawat, yaitu salawat Kamila (rajanya salawat).
Di dalamnya banyak kelebihan-kelebihan, banyak keutamaan-keutamaan apalagi kita baca 4444 kali. “Jadi kalau orang susah, baca itu insyaallah Allah hilangkan kesusahannya, susah jodohnya cepat dapet jodohnya, susah apapun cepat Allah berikan lewat keberkahan salawat kamilah itu. Gak main-main,” akunya.
Dan rantai yang ketiga kata Habib Alwi harus sambungkan rantai kita dengan orang-orang Soleh. Kalau kita lupa dengan orang-orang soleh berati selama ini kita sering kumpul dengan orang-orang salah. Orang soleh itu siapa? Orang baik. “Jadi kesolehan itu bukan hanya sekedar kesolehan secara spiritual, tiap hari rajin salatnya, rajin ibadahnya tapi hanya itu, tapi dia harus lakukan kesolehan secara sosial dengan sesama manusia, sesama tetangga. Tidak saling menzolimi, menghasut, iri hari, dengki, fitnah dan lainnya,” bebernya.
Kalau hanya sekedar kesolehan secara spiritual tapi tidak memiliki kesolehan secara sosial maka dia belum disebut orang soleh. Orang soleh itu perpaduan soleh secara spiritual beriman kepada Allah begitu luar biasa, begitu baik, begitu dekat. Begitu juga sesama manusia mendekatkan diri, baik sesama manusia. Inilah yang disebut orang soleh. “Oleh karena itu sering-seringlah kita kumpul dengan orang Soleh. Insyaallah kita akan terbawa jadi orang baik,” katanya lagi.
Jadi ibarat kalau kita naik kereta api, naik paling depan lokomotif, setelah itu ada bisnis klas, restorasi, klas ekonomi, dan yang terakhir itu kelas bebas, siapa saja bisa naik, boleh duduk, tapi tidak ada AC, panas. Itu kelas paling terakhir.
Kalau secara ibadah mungkin kita belum kelas eksekutif, bicara amal Soleh kita belum kelas eksekutif. Tidak apa apa, walaupun ibadah kita kurang, amal soleh kita kurang tapi kita naik saja gerbong paling terkahir, mungkin itu kita lebih pas digendong itu tidak apa-apa, yang penting kita naik gerbong itu, yang paling penting gerbong di belakang itu tersambung rantainya dengan gerbong di depan. “Maka sampai stasiun tujuan maka gerbong paling belakang pun walaupun panas tetap sampai. Begitu juga kita, walaupun ibadah kurang, amal ibadah kita kurang kita sering duduk dengan orang Soleh, jangan duduk dengan orang salah,” ujarnya.
“Insyaallah kalau orang-orang soleh itu sampai ke surganya Allah maka kita ke angkut kesana, karena rantai kita nyambung dengan mereka,” katanya.
Mudah-mudahan festival ini berjalan dengan lancar, dan mudah-mudahan juga Allah berikan keberkahan buat tanah Halteng. Dan mudah-mudahan semakin ditemukan kekayaan-kekayaan sda di Halteng itu bermanfaat buat rakyat Halteng l, bukan bermanfaat untuk segelintir orang. “Kalau hanya bermanfaat hanya untuk segelintir orang maka hati-hati jangan sampai disalahgunakan karena kita hanya hak guna pakai. Yang dipakai untuk kepentingan orang banyak,” tutupnya.
Sementara itu Sayyid Muhammad Albagir Bin Alwi Bin Thohir dalam ceramahnya menyampaikan rabbana atina fiddunya hasanah, wafilakhirati hasanah wakina ajabannar. Dari kecil kita diajarkan untuk meminta dan berdoa kepada Allah. “Ya Allah atina fiddunya Hasanah, ya Allah berikan keselamatan, kesuksesan bagi saya, diri ini dan juga berikan kesuksesan, keselamatan diakhirat,” ucap Sayyid Muhammad Albagir Bin Alwi Bin Thohir.
Disampaikannya sebagai muslim yakin bahwa hidup tidak hanya di dunia saja, kita semua yakin yang namnya surga dan neraka akan kita sampai kesana, kita yakin yang namnya jembatan siratalmustaqim akan kita sampai kesana, kita yakin yang namanya Padang Mahsyar kita akan sampai kesana. “Maka boleh jujur kita lakukan malam ini (tabligh akbar) adalah bentuk persiapan untuk menggapai di akhirat kelak,” katanya.
“Insyaallah malam ini menjadi bukti, menjadi tanda, dan menjadi saksi kelak,” tuturnya penuh doa.
Sayyid Muhammad Albagir juga berpesan keutamaan shalawat. Kita baca shalawat untuk memberi tanda di wajah ini bahwa kami umat Muhammad yang bisa diakui dihadapan Allah disaat manusia meminta pertolongan. “Karena disaat itu hanya kunci dari nabi Muhammad saja yang bisa membuka surga,” pesannya.
Maka pada saat itu beruntung mereka yang sudah mengenalkan dirinya dengan Rasullullah Saw. Beruntung yang namnya telah diingat oleh nabi karena mempersiapkan diri dengan perbanyak baca salawat. “Merugi bagi mereka yang tidak membawa persiapan kepada nabi Muhammad SAW,” tuturnya. (red)


















