WEDA – Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah, tengah melakukan penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (Riparda).
Kegiatan tersebut Kerjasama antara Pemda Halteng dengan Universitas Unkhair (Unkhair) Ternate melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan Fakultas Ilmu Budaya.
Terkait hal itu Rektor Unkhair Dr. Ridha Adjam saat dikonfirmasi usai pembahasan dokumen Riparda menyampaikan bahwa tim yang dibentuk untuk membahas dokumen Riparda adalah tim kolaboratif antara Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Fakultas Ekonomi. “Oleh karena itu dokumen Riparda yang dibahas ini komprehensif,” ucap Ridha.
Dikatakannya, dalam praktek pembuatan dokumen tersebut, tim melakukan survei, penelitian, basis datanya yang diambil dari Statistik maupun dinas-dinas terkait. “Walaupun dokumen itu kita ambil dari lembaga resmi, ternyata pada diseminasi ini kita mendapatkan fakta bahwa Halteng ini cepat sekali mengalami perubahan, baik berkaitan dengan luasan wilayah terutama penduduk,” katanya.
“Sehingga beberapa data dalam diseminasi itu perlu disesuaikan lagi dengan data-data terupdate,” jelasnya.
Ridha menyampaikan diseminasi Riparda itu dibuka Pj Bupati Halteng Ikram M Sangadji. Dia mengaku bupati mengarahkan bahwa destinasi wisata di Halteng tidak lagi terkungkung pada pariwisata yang berorientasi nasional tapi sudah harus berorientasi pada pelancong internasional. “Itu karena potensi Halteng selain potensi SDA, dan juga potensi destinasi pariwisata yang variatif ini juga karena Pj bupati sudah mengkoordinasikan transportasi udara yang sudah bisa dari Cina ke Halteng,” tandasnya.
“Dan itu memungkinkan untuk kita kembangkan pariwisata Halteng ini menjadi pariwisata yang berorientasi internasional,” lanjutnya.
Lebih lanjut Ridha Adjam mengaku beberapa identifikasi dari tim menunjukkan bahwa ada pariwisata yang perlu segera dikembangkan terkait dengan pariwisata yang berbasis laut (caostal ecotorism) dan juga pariwisata yang berbasis budaya sejarah dan juga kontinental (darat). “Tim sendiri menawarkan SDA yang sekarang sudah di olah dengan industri besar di Halteng ini harus dikelola menjadi salah satu destinasi wisata yang unggul,” tambahnya.
Nah karena itu, lanjut Ridha orang datang berwisata di Halteng tidak sekedar melihat alam tetapi juga industri ini menjadi salah satu daya tarik destinasi wisata selain back to nature. “Karena kalau kita berorientasi akan datang atau dikunjungi banyak orang apalagi, direct flight dari Cina maka kita juga sedang mendorong wisata alam,” bebernya.
Terutama masyarakat lokal (tagutil) yang selama ini Yayasan The Tebings sudah melakukan identifikasi KAT (Komunitas Adat Terpencil) di Dusun Kulo, Kecamatan Weda Tengah itu juga bisa menjadi salah satu objek wisata alami yang akan dikembangkan bersama masyarakat adat terpencil. “Dokumen Riparda saat ini masih diseminasi, maka kita tim meminta masukan, koreksi dan catatan-catatan dari tim OPD terkait dengan rencana pengembangan pariwisata di Halteng teruma di Bappelitbangda, Dinas Perhubungan, Diskominfo itu OPD-OPD yang sangat terkait,” pungkasnya.
Secara umum Rektor Unkhair itu mengatakan pihaknya sepakat bahwa satu hal yang sangat penting dalam rangka pengembangan pariwisata adalah bagaiman meningkatkan kesadaran masyarakat. “Jadi pariwisata berbasis komunikasi itu akan di dorong sehingga kesadaran masyarakat tentang bagaimana jujur adil terhadap orang yang datang itu penting agar menjadi karakter masyarakat yang akan kita bangun demi kemajuan pariwisata kedepan,” tutupnya. (red)


















