Hamdan Halil : Nuryadin Ahmad Mengkritik “Jagoan” dan Dirinya Sendiri

Foto : Politisi PBB Halteng, Hamdan Halil

WEDA – Politisi PBB Halteng Hamdan Halil menyayangkan pernyataan yang dilontarkan Nuryadin Ahmad yang terlalu berlebih dan omong kosong menyebut Calon Bupati Halteng Ikram M Sangadji (IMS) yang membuat Halteng kehilangan jati diri adalah sebuah pembodohan publik yang sengaja dimainkan pada momentum Pilkada Halteng. “Bermula dari penyataan Nuryadin Ahmad, yang menyebut Halmahera Tengah kehilangan jati diri fagogorunya karena dipimpin Ikram Malan Sangaji (IMS) selama 1 Tahun 8 bulan itu, yang dimuat di salah satu media online bukan statemen orang yang berpendidikan seperti Nuryadin Ahmad,” tegas Hamdan Halil melalui rilis yang disampaikan pada media ini via whatsapp.

Politisi Partai Bulan Bintang (PBB), Hamdan Halil menyebut Nuryadin keliru dan pernyataan yang Ia sampaikan secara tidak langsung mengkritik dan menyerang calon kandidatnya sendiri. “Jangan mengeksploitasi Fagogoru untuk kepentingan politik dan mengkompori emosi rakyat Halteng secara berlebihan dan memantik perlawanan sesama anak kampung,” ungkapnya.

“Sebab orang fagogoru itu cinta damai dan menerima siapa saja, termasuk Ikram M Sangadji yang saat ini mencalonkan diri sebagai Bupati Halteng periode 2024-2029,” sebutnya.

Lebih lanjut Hamdan mengatakan, jika dilihat sejarah pilkada sebelumnya paket Elang Rahim pada 2017, Slogan Fagogoru dan anak kampung atau Putra Daerah dihembuskan untuk menyerang lawan politiknya yang diposisikan sebagai pendatang dan bukan orang Fagogoru.

Hamdan mengungkit, kala itu massa rakyat didoktrin dengan isu dan ujaran kebencian kepada salah satu paslon sedemikian rupa. Namun setelah terpilih, sikap temperamen terbawa dalam pengelolaan pemerintahan sehingga tidak bisa memposisikan kepada siapa meluapkan amarahnya. “Jadi sekali lagi apa yang disampaikan Nuryadin Ahmad adalah mengkritik kandidatnya sendiri bukan mengkritik IMS-ADIL,” pungkasnya.

Ketua PB Formmalut itu juga menyampaikan, cermin pemimpin Fagogoruis tidak seperti itu. “Nuryadin jangan mencederai rasa berfagogoru, karena itu bertentangan dengan nilai sopan re hormat budi re bahasa,” tukas Hamdan.

“Kalau ada yang menjadi antitesa dari kepemimpinan sebelumnya itu, kenapa tidak mempertahankan yang baru. IMS memberi rasa nyaman dan hormat kepada orang Halteng dalam perilaku pemerintahan dengan program populisnya,” tutur Hamdan.

Selain itu, dalam konteks rotasi kepemimpinan generasi fagogoru. Kalau tidak ada figur lain yang bertarung berarti hanya Elang dan Mutiara. Sehingga kehadiran IMS di panggung politik Halteng saat ini adalah penantang baru sekaligus jadi penanda apakah rivalitas politik dua figur di atas bisa diakhiri ataukah terus berlanjut sesama anak fagogoru saling sikut.

Dan bila IMS yang terpilih, kata Hamdan maka akan ada tatanan baru kepemimpinan generasi fagogoru di masa mendatang. Semuanya seperti dimulai dari awal. Tokoh- Tokoh muda seperti Nuryadin atau lainnya sangat mungkin jadi calon Bupati berikutnya. “Untuk itu, memenangkan IMS dalam konteks ini adalah perjuangan anak kampung atas tatanan politik baru dan pro status quo. Jadi warga Halteng telah tersadar berani keluar dari lorong-lorong sempit primordial,” sebutnya.

Tak itu saja, Ketum Formmalut itu mengaku, bila apa yang diasumsikan oleh Nuryadin itu benar, bukankah Nuryadin merupakan orang terdekat yang melakukan skenario program dan usulan penting kepada IMS, namun hanya karena perbedaan pilihan politik lalu menyerang IMS dengan isu berbasis suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). “Jangan hanya karena kita berbeda secara politik, lalu batasan etika komunikasi politik yang terkristal dalam ajaran Fagogoru terabaikan dan mengeyampingkan hubungan harmonis dan kebaikan bersama yang terjalin selama ini,” pungkasnya (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *