Permata Tersembunyi di Halmahera Tengah, Pulau Sayafi dan Liwo Menawarkan Keindahan Alam Serta Kearifan Lokal Yang Luar Biasa

Bupati Ikram M Sangadji, Wabup Ahlan Djumadil, Sekda Bahri Sudirman bersama masyarakat saat melakukan penangkapan ikan secara tradisional dan ramah lingkungan yang oleh masyarakat setempat disebut dengan Pei Wolo In di Pulau Sayafi, Kecamatan Patani Utara, Selasa (29/4/2025).(Foto:dok:ZT)

Weda – Pulau Sayafi dan Pulau Liwo mendadak ramai dikunjungi oleh pengunjung. Ternyata hal tersebut dikarenakan adanya Kegiatan Travelling Tour Sayafi-Liwo Island, yang dilaksanakan selama dua hari dimulai Selasa 29 April sampai Rabu 30 April 2025.

Traveling Tour tersebut dipusatkan di Pulau Sayafi, Desa Tepelo, Kecamatan Patani Utara. Kegiatan itu digagas oleh Event Organizer Traveling Tour Sayafi-Liwo yang diketuai oleh Badar Manai dan Sekertaris Zulfan Hi. Usman.

Penjemputan Bupati Ikram M Sangadji, Wabup Ahlan Djumadil, Sekda Bahri Sudirman, Ketua DPRD Zulkifli Hi Bayan dan rombongan saat tiba di Pulau Sayafi.

Agenda acara terdiri dari hiburan, yang diawali penyambutan Bupati dan Wakil Bupati serta Sekda Kabupaten Halmahera Tengah beserta OPD, Ketua dan Anggota DPRD serta Sponsor ship dan para tamu undangan Travelling Tour Sayafi-Liwo Island 2025. Dan tarian Lalayon, Pengalungan Bunga Persaudaraan dan pembacaan Baca Doa.

Dari rangkaian kegiatan itu, ada salah satu yang cukup menonjol dan sangat menarik yakni atraksi adat PEI WOLO IN (penangkapan ikan secara tradisional dan ramah lingkungan) dengan menggerakkan 200 orang personil ke laut.

Ikan hasil tangkapan Pei Wolo In yang dibakar untuk dikonsumsi oleh masyarakat dan pengunjung.

Kemudian dilanjutkan acara CONG IN (pembakaran ikan dan seafood).

Sebagaimana diketahui Pulau Sayafi di Halmahera Tengah memiliki panjang sekitar 4 kilometer. Namun, disebutkan bahwa pulau ini adalah bagian dari “permata tersembunyi” di Halmahera Tengah bersama dengan Pulau Liwo, yang menawarkan keindahan alam yang luar biasa.

Terutama pasir putih, air laut yang bening, dipadu dengan terumbu karang yang sangat indah, berbagai jenis ikan dan lobster serta kepiting kenari bisa ditemui di pulau ini. Selain itu Pulau Sayafi dan Pulau Liwo juga memiliki potensi wisata yang sangat indah.

Oleh masyarakat lokal menjadikan kedua pulau itu sebagai destinasi wisata yang sangat indah dan manjakan mata. Dimana selain kepentingan berkebun oleh warga lokal di pulau itu, juga sebagai tempat memancing ikan juga sekedar refreshing diakhir pekan.

Kini lewat kegiatan traveling tour diharapkan bisa mengangkat potensi wisata yang tersembunyi itu.

Terkait hal itu Bupati Ikram M Sangadji (IMS) yang turut hadir dalam tradisi menangkap ikan tradisional atau atraksi adat PEI WOLO IN (penangkapan ikan secara tradisional dan ramah lingkungan) menyampaikan bahwa saat ini dirinya melihat langsung bagaimana manen ikan dengan cara mengurung ikan menggunakan peralatan lokal hingga ikan benar-benar terkurung dalam satu lokasi. “Kemudian ikan-ikan yang telah terkurung itu ditangkap menggunakan tombak, panah dan menangkap menggunakan tangan kosong ketika ikan bersembunyi di celah-celah baru karang,” ucapnya.

Ikram mengatakan tradisi ini sudah dilakukan secara turun temurun okeh masyarakat Tepelo. “Jadi mereka membuat seperti suatu lagun, dan pada saat pasang ikan ikan demersal akan masuk dan tidak bisa keluar saat air surut. Tentunya sebelum itu mereka menggunakan ritual juga pada hari dan bulan tertentu,” jelasnya.

“Sehingga kearifan lokal ini tetap terjaga dan ikan-ikan itu ditangkap sesuai ukuran yang bisa dikonsumsi sedangkan ikan ukuran kecil tetap dibiarkan dan kembali pada saat air pasang,” akunya.

Menariknya lanjut Ikram bahwa proses penangkapan ikan atau tradisi Pei Wolo In tersebut berlangsung hanya satu jam saja. “Jadi hanya satu jam diberikan waktu untuk masyarakat menangkap ikan itu. Setelah satu jam lewat itu sudah tidak bisa ditangkap, karena salah satunya adalah air sudah mulai pasang,” ujarnya.

Sementara itu Wakil Bupati Ahlan Djumadil mengatakan bahwa hari ini Pemda Halteng, baik dirinya selaku Wakil Bupati bersama Bupati dan Sekda serta beberapa OPD melaksanakan kegiatan di Sayafi atas undangan masyarakat Tepelo dan Gemia. “Salah satu agenda dalam kegiatan itu di antaranya adalah lempar tali, atau menangkap ikan secara tradisional. Kegiatan seperti ini adalah kegiatan tradisional masyarakat setempat. Dimana ikan itu dikurung di suatu tempat kemudian ikannya ditangkap dengan cara ditombak dan ditangkap menggunakan tangan kosong,” katanya.

Ahlan mengaku tradisi masyarakat ini perlu dilestarikan karena cara penangkapan sangat ramah lingkungan. “Saya kira tradisi ini perlu dilestarikan karena cara penangkapan ini sangat ramah lingkungan,” tuturnya.

Wabup mengaku yang paling menarik dalam kegiatan itu adalah sensasi saat menangkap ikan apalagi saat menombak ikan itu. “Saya sendiri berhasil menombak tiga ekor ikan ukuran yang cukup besar,” terangnya. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *