Kisah Kasman La Jaani, Pemuda Soligi yang Jadi Lulusan Terbaik Program Vokasi Harita Nickel

KAWASI – Di bawah langit Pulau Obi yang cerah, Kasman La Jaani (18) berdiri dengan tegak. Raut lega sekaligus haru terpancar jelas di wajah pemuda asal Desa Soligi tersebut. Di tangannya, sebuah sertifikat digenggam erat.

Ini ada sebuah bukti bahwa ia kini bukan lagi pemuda desa biasa, melainkan salah satu wisudawan terbaik program vokasi Bahasa Mandarin yang digelar Harita Nickel pada November 2025 lalu.

​Bagi Kasman, lembaran kertas itu adalah “monumen” kemenangan atas keputusasaan yang hampir merenggut mimpinya.

​Bertaruh Antara Pendidikan dan Perut

​Perjalanan Kasman dimulai saat ia bergabung dalam program Peningkatan Keahlian dan Keterampilan Pemuda (PELITA) angkatan ke-3. Program intensif selama enam bulan hasil kolaborasi Harita Nickel dan lembaga IndoPanda ini dirancang menjadi gerbang masa depan bagi pemuda di desa lingkar tambang.

​Namun, kenyataan di lapangan tak semudah membalik telapak tangan. Setiap hari, Kasman harus bertarung dengan jarak dan medan sulit Soligi-Kawasi. Tak hanya kendala geografis, tantangan terberat justru datang dari kondisi ekonomi keluarga. Sebagai salah satu tumpuan harapan, Kasman sempat terjebak dalam dilema antara lanjut belajar atau berhenti demi mencari sesuap nasi.

​”Awalnya berat sekali. Saya merasa tidak sanggup dan ingin berhenti saja,” kenang Kasman getir. Saat itu, pikirannya hanya terfokus pada bagaimana ia bisa bekerja serabutan demi membantu dapur orang tuanya tetap mengepul.

​Pendekatan Hati: Titik Balik Perjuangan

​Niat mundur Kasman tercium oleh tim Corporate Social Responsibility (CSR) Harita Nickel. Bagi perusahaan, Kasman bukan sekadar angka dalam statistik peserta, melainkan talenta lokal yang potensinya tidak boleh padam.

​”Kami mendengar kendala Kasman dan merasa sayang jika ia berhenti. Kami melihat ada motivasi dan harapan besar dalam dirinya,” ujar Ragil Pardiantoro, Community Development Supervisor Harita Nickel.

​Alih-alih memberikan surat peringatan, tim CSR memilih pendekatan empati. Mereka menempuh perjalanan menuju kediaman Kasman di Desa Soligi untuk berdialog secara kekeluargaan. Tim meyakinkan orang tua Kasman bahwa penguasaan Bahasa Mandarin adalah “kunci emas” yang akan mengubah nasib keluarga di masa depan, jauh melampaui apa yang didapat dari pekerjaan serabutan saat ini.

​Kunjungan itu menjadi titik balik. “Saya bisa lanjut karena kakak-kakak CSR datang meyakinkan saya dan orang tua. Dari situ, semangat saya bangkit kembali,” tutur Kasman.

​Menjadi Pemain Utama di Tanah Sendiri

​Dukungan keluarga menjadi bahan bakar baru. Kasman melesat melampaui keterbatasannya. Dari 30 peserta yang memulai perjuangan, hanya 22 orang yang berhasil bertahan hingga garis finis. Secara membanggakan, Kasman keluar sebagai lulusan terbaik kedua.

​Ia membuktikan bahwa pemuda lingkar tambang bukan hanya penonton di tanah sendiri. Melalui program PELITA, mereka bertransformasi menjadi tenaga kerja kompeten dengan sertifikasi kompetensi industri global.

​Bagi Kasman, hari wisuda itu hanyalah sebuah awal. “Saya percaya keahlian Bahasa Mandarin ini mampu membawa masa depan yang lebih cerah,” pungkasnya optimis. Kini, di balik senyumnya, tak ada lagi keraguan hanya ada kesiapan untuk menaklukkan tantangan masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *