Foto: PJ Bupati Ikram Malan Sangadji
Zonatimur.id, Halteng – Keberadaan pelabuhan penyebrangan kelas III Weda akan menjadi penopang ekonomi masyarakat Halmahera Tengah utamanya masyarakat Patani dan Gebe. Pasalnya kedua wilayah tersebut memiliki potensi di sektor perkebunan yang menjadi salah satu sektor (selain sektor pertambangan) yang selalu tumbuh positif.
Hal tersebut disampaikan Penjabat Bupati Halteng, Ir. Ikram Malan Sangadji (IMS) saat melepas rombongan mudik gratis tahap di tiga di pelabuhan penyebrangan kelas III Weda pada Rabu (19/4/2023) malam pukul 22.30 Wit.
Dikatakannya bahwa Halteng menyimpan potensi besar terlebih letaknya yang strategis karena berada di sentral pulau Halmahera. Untuk itu pelayaran menjadi sektor penting dalam menyokong pertumbuhan ekonomi karena mempermudah akses hasil perkebunan masyarakat di Patani dan Gebe.
Ir. Ikram Malan Sangadji menegaskan keberadaan Pelabuhan Penyebrangan Kelas III Weda sangat strategis dan menjadi pusat perekonomian di Halteng. Apalagi infrastruktur dan fasilitas pelabuhan kelas III Weda yang mumpuni dan telah dilengkapi dengan jembatan timbang akan mempermudah akses masyarakat Patani dan Gebe untuk menjual hasil perkebunan cengkeh, pala dan kopra di Weda ketimbang harus dijual ke Sorong dan Terante.

Foto: Aktifitas pelabuhan penyeberangan kelas III Weda
Dikatakannya fasilitas Pelabuhan Feri Weda sudah cukup baik karena dilengkapi dengan jembatan timbang. Untuk itu kendaraan berat yang hendak melintas ke Patani melalui jalur darat akan ditimbang, apabila terjadi kelebihan muatan maka diwajibkan melalui jalur laut (kapal feri).
Karena jika dibiarkan melintas jalur darat maka akan mengakibatkan efek yang kurang baik pada kondisi jalan raya, apalagi pemeliharaan jalan anggarannya sangat besar. “Apabila terminal di depan Rusunawa sudah aktif, maka diberlakukan penimbangan bagi setiap kendaraan yang melintas, kalau kategori berat maka kendaraan harus melalui jalur laut atau feri. Tidak diperbolehkan melintas melalui jalur darat,” ujarnya.
Dalam rangka itu juga, Ikram mengatakan akan meminta kapasita kapal feri yang besar. IMS beralasan kapasitas kapal feri yang besar dan jembatan timbang karena jalur Patani dan Gene itu penghasil kopra, cengkeh dan pala. Untuk itu dirinya tidak mengingkan orang Patani dan Gebe menjual komoditi itu di Ternate atau Sorong. “Jadi dengan kapal feri bisa langsung dibawa ke Weda untuk dibeli, lalu hasil itu dibawa ke Surabaya melalui jalur tol laut,” tandasnya.
“Jadi orang Patani dan Gebe jual cengkeh, pala dan kopra di Weda maka tidak akan terpotong lagi uang trasportasi di Ternate via Loleo atau Sofifi. Jadi cukup di Weda saja karena harganya sama. Otomatis pendapatan masyarakat akan besar,” terang IMS.
Asisten Deputi Pengelolaan Perikanan Tangkap Kemenko Marves itu juga mengaku jika semua rencana besar itu terlaksana dengan baik maka Weda akan jadi pusat utama karena orang dari Maba Haltim akan datang ke Weda, kemudian dari Gane Timur termasuk dari Tikep (Payahe dan Gita) bisa langsung ke Weda. “Apalagi Plaza Weda akan kita kembangkan menjadi Mall, otomatis ada ritel atau ada penjualan pakaian. Jadi orang Weda tidak perlu lagi ke Ternate, otomatis Weda dengan sendirinya akan kalahkan Ternate,” bebernya.
Belum lagi Bandara Loleo, Sofifi sudah dibangun dan Bandara Cekel Lelilef sudah dikomersialkan maka dengan sendrinya orang akan banyak datang berkunjung ke Weda dan itu sudah pasti perputaran uang di Weda sangat tinggi. “Kalau uang berputar di sini torang tidak hanya mengharapkan tambang tapi perkebunan torang yang akan mendorong ekonomi di sini, jauh lebih besar ekonominya dibandingkan ekonomi di tambang,” tegasnya.
“Dan siapa yang akan menikmatinya sudah pasti orang Halteng utamanya Patani dan Gebe yang miliki kebun cengkeh, pala dan kopra,” pungkasnya. (red)










