Bupati Ikram Malan Sangadji bersama Dirjen Kesprimkom Kemenkes RI dr. Maria Endang Sumiwi, MPH usai pertemuan, pada Senin (28/7/2025).(Foto:dok.istimewa)
Ekosistem kesehatan bukan sekedar membangun RSUD dan Puskesmas saja tapi lebih dari itu semua pihak harus berkolaborasi membangun ekosistem kesehatan secara terintegrasi. “Dirjen Kesprimkom sangat setuju dan memberikan respon agar dilakukan koordinasi lanjut,” Bupati Halteng Ikram Malan Sangadji.
Jakarta – Bupati Ikram Malan Sangadji (IMS) dalam agenda pertemuan dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Senin (28/7/2025) dalam rangka membahas program prioritas nasional di bidang kesehatan, serta untuk memperkuat layanan kesehatan di daerah.
Pertemuan ini juga bertujuan untuk mendapatkan dukungan anggaran dan infrastruktur dari pemerintah pusat.
Dalam pertemuan tersebut Bupati Ikram menawarkan keragaman triparty antara Kemenkes, Pemda dan PT. IWIP untuk membangun ekosistem kesehatan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan.
Menurut Ikram, ekosistem kesehatan bukan sekedar membangun RSUD dan Puskesmas saja tapi lebih dari itu semua pihak harus berkolaborasi membangun ekosistem kesehatan secara terintegrasi. “Dirjen Kesprimkom sangat setuju dan memberikan respon agar dilakukan koordinasi lanjut,” jelas Ikram.
Menurutnya lagi, bahwa kita (Pemda Halteng) membuat pilot project keterpaduan ekosistem kesehatan di Halmahera Tengah. Dimana, Ikram yang memiliki latar belakang birokrasi Kemenko sudah terbiasa mengkoordinasikan program terintegrasi sehingga ingin membuat sesuatu dengan target yang besar.
Buktinya, dalam pertemuan itu, Bupati Ikram mendapat apresiasi dari Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan RI (Kesprimkom) dr. Maria Endang Sumiwi, MPH dan Direktur Promosi Kesehatan dr. Alvieda Sariwati M.epid., karena menolak pembangunan rumah sakit melalui skema DAK.
Hal itu, Ikram lebih memilih skema APBN nantinya APBD dan dana CSR privite sektor menjadi bagian yang terintegrasi. “Kita berpikir jauh ke depan bukan jangka pendek,” tegasnya.
Kandidat Doktor itu juga mengatakan bahwa belajar dari ekosistem kesehatan di Maluku Utara, maka tidak akan berhasil jika ekosistem kesehatan bangun secara parsial. “Targetnya akan sama dengan yang sudah ada gak akan berhasil karena hanya mengejar pembangunan fisik sementara fisik hanya 35 persen dari ekosistem kesehatan secara keseluruhan,” pungkasnya. (red)










